Assalamu'Alaikum Wr. Wb. Selamat Datang Di Blog ” Said @ Umar " JL. Sungai Bialo No. B 88 / 27 Lingkungan Lamalaka Kelurahan Lembang Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng Propinsi Sulawesi Selatan Kode Pos 92411. Terima kasih telah berkunjung , Kritik dan Saran anda senantiasa Kami harapkan. Semoga bermanfaat selalu. Amin . . . . Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Sabtu, 19 November 2016

Menjamak Sholat Fardhu

Menjamak Sholat Fardhu


Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Apakah boleh kita menjamak shalat da­lam keadaan sakit? Jika boleh, apa­kah ada persyaratannya?
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Darwani
Pondok Ungu Permai, Bekasi, Jawa Barat


Jawaban:
Wa’alaikumussalam Wr. Wb.
Shalat fardhu boleh dilakukan de­ngan dijamak bila seseorang mengalami sakit yang cukup berat, yakni yang mem­buatnya sulit untuk melakukan setiap sha­lat fardhu pada waktunya. Misalnya sakit yang membuat badannya panas ting­gi disertai sakit kepala yang berat se­hingga berat baginya untuk melakukan setiap shalat fardhu pada waktunya ma­sing-masing. Tetapi jika hanya menga­la­mi sakit ringan yang tak menyulitkan­nya untuk melakukan shalat fardhu pada waktunya masing-masing, misalnya ha­nya sakit kepala yang tak seberapa atau panas yang ringan, dan semacamnya, ia tak boleh menjamak shalatnya.


Dalam keadaan sakit yang membe­ratkannya untuk melakukan shalat far­dhu di setiap waktunya itu, seseorang bo­leh menjamak shalatnya, baik dilaku­kan dengan jamak taqdim (jamak de­ngan mendahulukan), yakni Zhuhur dan Ashar digabungkan dan dilakukan pada waktu zhuhur, serta Maghrib dan Isya di­gabungkan dan dilakukan pada waktu maghrib, maupun jamak ta’khir (jamak de­ngan mengakhirkan), yakni Zhuhur dan Ashar digabungkan dan dilakukan pada waktu ashar, serta Maghrib dan Isya digabungkan dan dilakukan pada waktu isya.


Di dalam kitab Fathul-Mu‘in Juz I di­katakan, “Boleh menjamak shalat karena sakit, baik dengan jamak taqdim maupun ta’khir, menurut pendapat yang dipilih (da­lam Madzhab Syafi‘i) dan ia (orang yang sakit) hendaknya memperhatikan mana yang lebih mudah baginya (apa­kah jamak taqdim ataukah jamak ta’khir). Maka apabila sakitnya, misalnya de­mam, akan bertambah berat pada waktu yang kedua, ia boleh mendahulukannya (mengerja­kan­nya dengan jamak taqdim) dengan mem­perhatikan syarat-syarat yang ber­laku pada jamak taqdim; atau bila sakit­nya terasa berat pada waktu yang per­tama, ia boleh menta’khir­kan­nya (me­ngerjakannya dengan jamak ta’khir) de­ngan syarat meniatkan jamak pada waktu yang pertama (jika ingin me­ngerjakan Zhuhur dan Ashar dengan jamak ta’khir, harus berniat di waktu zhu­hur; demikian juga jika ingin mengerja­kan Maghrib dan Isya dengan jamak ta’khir, harus berniat pada waktu maghrib).”

Sumber: Majalah Alkisah

Selasa, 15 November 2016

Naskah Ceramah Kematian

Naskah Ceramah Kematian
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu alaikum warrahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillahirrabil alamin, wabihinasta’inu waala umuridunya waddin, asyhaduala ilaahailallah wahdahula syarikalah waasyhaduana Muhammadan abduhu warasuluhu laa nabiya ba’da.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.  Dialah raja dari segala raja, Dialah yang menghidupkan dan mematikan manusia dan semua makhluknya, Dialah yang menguasai hari pembalasan. Tiada sekutu baginya.
Salawat dan salam semoga tetap tercurah kepada baginda Nabi Muhammadshallallahu ‘alaihi wa salam, karena atas perjuangan beliau, keluarga, sahabat, dan para tabi’in yang telah mengantarkan umat manusia dari zaman jahilia, zaman kebodohan menuju ke zaman yang penuh dengan ilmu pengetahuan dan penuh dengan cahaya kebenaran dan semoga kita tetap menjadi pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.

Ma’asyral Muslimin Wal  Muslimat Rahimakumullah
Perkenankanlah kami pada kesempatan ini untuk menyampaikan ceramah yang berjudul “Kematian”.

Ma’asyral Muslimin Wal  Muslimat Rahimakumullah
Kematian, yang dikenal sebagai berpisahnya ruh dari badan, merupakan sebab yang mengantar manusia menuju kehidupan abadi yakni alam akhirat. Kematian juga merupakan pemusnah semua kenikmatan dan pemutus segala nafsu syahwat.
Perlu kita ketahui bahwa keberadaan kita di dunia ini hanyalah sementara. Kehidupan kita diibaratkan seperti seorang perantau yang pergi merantau ke negeri orang dan pada saatnya nanti ia akan kembali dengan membawa apa yang telah ia cari dan ia kumpulkan selama berada di perantauan. Sama halnya dengan manusia yang hidup di dunia ini pada saatnya nanti akan kembali menghadap Allah dengan membawa amal perbuatan telah kita kumpulkan di dunia yang akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Ma’asyral Muslimin Wal  Muslimat Rahimakumullah
Kematian itu merupakan peristiwa yang pasti dialami oleh setiap makhluk yang bernyawa yang diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik itu manusia, hewan, jin, setan, bahkan malaikat sekalipun akan mengalami yang namanya kematian. Sebagaimana Firman Allah dalam surah al-Ankabut ayat 57 yang artinya: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.” 
(Q.S. al-Ankabut : 57)
Firman Allah tersebut di atas telah memberikan kita pemahaman bahwa kita manusia yang mempunyai jiwa atau ruh pasti akan merasakan mati walaupun kita sendiri tidak mengetahui kapan dan di mana kematian itu akan mendatangi kita. Oleh karena kematian itu datangnya secara tiba-tiba maka kita harus mempersiapkan diri dengan cara senantiasa meningkatkan kualitas ibadah kita kepada Allah agar pada saat kematian atau ajal itu datang maka kita telah siap dan insya Allah kita akan mati dalam keadaan khusnul khatimah

Ma’asyral Muslimin Wal  Muslimat Rahimakumullah
Ketika ajal kita telah tiba dan malaikat Izrail telah siap untuk mencabut nyawa kita maka kita tidak akan bisa menunda kematian kita walau hanya sedetik saja, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surah Yunus ayat 49 yang  artinya Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya).    (Q.S. Yunus : 49)
Firman Allah tersebut sangatlah jelas karena ketika Allah menciptakan manusia Allah juga telah menenukan ajalnya pula, sebagaimana firman-Nya yang artinya Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian Dia menetapkan ajal (kematianmu) 
(Q.S. al-An’am : 2)

Ma’asyral Muslimin Wal  Muslimat Rahimakumullah
Berbicara tentang kematian tentunya tak lepas dari yang namanya sakaratul maut. Sakaratul maut adalah saat-saat pencabutan nyawa seorang manusia oleh Malaikat Izrail. Saat-saat sakaratul maut ini merupakan saat yang paling menyakitkan yang belum pernah dirasakan manusia selama hidup di dunia. Rasa sakit ketika sakaratul maut kira-kira seperti tiga ratus kali pukulan pedang, sebagaimana yang disebutkan Imam Suyuthi dalam kitab Syarhus Shuudur, dari Hasan, sesungguhnya Nabi Muhammad Saw. menyebutkan tentang sakitnya sakaratul maut, beliau bersabda: “Sakitnya kira-kira tiga ratus kali pukulan pedang”. Bisa kita bayangkan bagaimana sakitnya, jangankan tiga ratus kali sekali pukulan pedang saja sudah sangat sakit apalagi tiga ratus kali, naudzubillahi minzalik.

Ma’asyral Muslimin Wal  Muslimat Rahimakumullah
Pertanyaan besar bagi kita semua, sudah siapkah kita bila saat ini malaikatul maut datang mencabut nyawa kita? Sudah siapkah kita untuk terbaring sendiri, berbalut kain kafan di dalam lubang yang berukuran satu kali satu setengah meter? Tentunya yang dapat menjawab pertanyaan ini hanyalah diri kita sendiri.

Ma’asyral Muslimin Wal  Muslimat Rahimakumullah
Sebagai kesimpulan ceramah saya adalah kita sebagai manusia yang dicipkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala., dan suatu saat kita akan kembali kepada-Nya, marilah kita senantiasa meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah sehingga ketika kematian itu datang kita masih dalam keadaan Muslim, karena Allah sendiri menginginkan kita manusia khususnya kita umat Islam ketika kita kembali pada-Nya, kita masih memegang teguh agama kita yakni agama Islam, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an surah al-Imran ayat 102, yang artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam(Q.S. Ali Imran : 102)
Ma’asyral Muslimin Wal  Muslimat Rahimakumullah
Demikianlah ceramah yang dapat kami sampaikan pada kesempatan ini, semoga dapat bermanfaat bagi kita semua, khusunya bagi kami dan seluruh hadirin yang hadir pada hari ini. Alhaqqu mirrabbi walatakunanna minal mumtarin. Ada benarnya itu datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bila ada kekurangan itu semata-mata datangnya dari diri kami sebagai makhluk Tuhan yang tak luput dari salah dan khilaf. Kepada Allah saya mohon ampun dan kepada hadirin sekalian saya mohon dimaafkan.
Wabillahi taufik wal hidayah, waridha wal inayyah, wassalamu alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.


Saudi Arabia Abandons Islamic Calendar for Civil Servant Paydays

Saudi Arabia Abandons Islamic Calendar for Civil Servant Paydays

Widget Islami Alhabib sebagai Vista Sidebar Gadget dan Yahoo! Widget

Widget Islami Alhabib sebagai Vista Sidebar Gadget dan Yahoo! Widget