Selasa, 29 November 2016
Senin, 28 November 2016
Soal UAS Semester 1 Kelas 4 Semua Mata Pelajaran
Soal UAS Semester 1 Kelas 4 Semua Mata Pelajaran: Download soal-soal UAS kelas 4 SD/MI semester 1 semua mata pelajaran.
Kumpulan Soal UAS Semester 1 Kelas 4, 5, dan 6
Kumpulan Soal UAS Semester 1 Kelas 4, 5, dan 6: Download kumpulan soal-soal UAS Kelas 4, 5, dan 6 SD/MI semester 1 semua mata pelajaran.
Kelompok Kerja Guru Ciomas: Download Program Remidial dan pengayaan
Kelompok Kerja Guru Ciomas: Download Program Remidial dan pengayaan: Kegiatan Pembelajaran Remidial dan Pengayaan Salah satu program yang harus dilakukan oleh seorang guru adalah perbaikan atau yang lebi...
Sabtu, 19 November 2016
Menjamak Sholat Fardhu
Menjamak Sholat
Fardhu
Assalamu’alaikum
Wr. Wb.
Apakah
boleh kita menjamak shalat dalam keadaan sakit? Jika boleh, apakah ada
persyaratannya?
Wassalamu’alaikum
Wr. Wb.
Darwani
Pondok
Ungu Permai, Bekasi, Jawa Barat
Jawaban:
Wa’alaikumussalam
Wr. Wb.
Shalat fardhu boleh dilakukan dengan dijamak
bila seseorang mengalami sakit yang cukup berat, yakni yang membuatnya sulit
untuk melakukan setiap shalat fardhu pada waktunya. Misalnya sakit yang membuat badannya panas tinggi disertai sakit
kepala yang berat sehingga berat baginya untuk melakukan setiap shalat fardhu
pada waktunya masing-masing. Tetapi jika
hanya mengalami sakit ringan yang tak menyulitkannya untuk melakukan shalat
fardhu pada waktunya masing-masing, misalnya
hanya sakit kepala yang tak seberapa atau panas yang ringan, dan semacamnya,
ia tak boleh menjamak shalatnya.
Dalam keadaan sakit yang memberatkannya untuk
melakukan shalat fardhu di setiap waktunya itu, seseorang boleh menjamak
shalatnya, baik dilakukan dengan jamak
taqdim (jamak dengan mendahulukan), yakni Zhuhur dan Ashar digabungkan dan
dilakukan pada waktu zhuhur, serta Maghrib dan Isya digabungkan dan dilakukan
pada waktu maghrib, maupun jamak ta’khir
(jamak dengan mengakhirkan), yakni Zhuhur dan Ashar digabungkan dan dilakukan
pada waktu ashar, serta Maghrib dan Isya digabungkan dan dilakukan pada waktu
isya.
Di dalam kitab Fathul-Mu‘in Juz I dikatakan, “Boleh menjamak shalat
karena sakit, baik dengan jamak taqdim maupun ta’khir, menurut pendapat yang
dipilih (dalam Madzhab Syafi‘i) dan
ia (orang yang sakit) hendaknya memperhatikan mana yang lebih mudah baginya
(apakah jamak taqdim ataukah jamak ta’khir). Maka apabila sakitnya, misalnya
demam, akan bertambah berat pada waktu yang kedua, ia boleh mendahulukannya
(mengerjakannya dengan jamak taqdim) dengan memperhatikan syarat-syarat yang
berlaku pada jamak taqdim; atau bila sakitnya terasa berat pada waktu yang
pertama, ia boleh menta’khirkannya (mengerjakannya dengan jamak ta’khir) dengan
syarat meniatkan jamak pada waktu yang pertama (jika ingin mengerjakan Zhuhur
dan Ashar dengan jamak ta’khir, harus berniat di waktu zhuhur; demikian juga
jika ingin mengerjakan Maghrib dan Isya dengan jamak ta’khir, harus berniat
pada waktu maghrib).”
Sumber: Majalah Alkisah
Jumat, 18 November 2016
Rabu, 16 November 2016
Selasa, 15 November 2016
Naskah Ceramah Kematian
Naskah Ceramah Kematian
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu alaikum warrahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillahirrabil alamin, wabihinasta’inu waala
umuridunya waddin, asyhaduala ilaahailallah wahdahula syarikalah waasyhaduana
Muhammadan abduhu warasuluhu laa nabiya ba’da.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta
alam. Dialah raja dari segala raja, Dialah yang menghidupkan dan
mematikan manusia dan semua makhluknya, Dialah yang menguasai hari pembalasan.
Tiada sekutu baginya.
Salawat dan salam semoga tetap tercurah kepada baginda
Nabi Muhammadshallallahu ‘alaihi wa salam, karena atas
perjuangan beliau, keluarga, sahabat, dan para tabi’in yang telah mengantarkan
umat manusia dari zaman jahilia, zaman kebodohan menuju ke zaman yang penuh
dengan ilmu pengetahuan dan penuh dengan cahaya kebenaran dan semoga kita tetap
menjadi pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.
Ma’asyral Muslimin Wal Muslimat Rahimakumullah
Perkenankanlah kami pada kesempatan ini untuk menyampaikan ceramah yang berjudul “Kematian”.
Ma’asyral Muslimin Wal Muslimat Rahimakumullah
Kematian, yang dikenal sebagai berpisahnya ruh dari
badan, merupakan sebab yang mengantar manusia menuju kehidupan abadi yakni alam
akhirat. Kematian juga merupakan pemusnah semua kenikmatan dan pemutus
segala nafsu syahwat.
Perlu kita ketahui bahwa keberadaan kita di dunia ini
hanyalah sementara. Kehidupan kita diibaratkan seperti seorang perantau yang
pergi merantau ke negeri orang dan pada saatnya nanti ia akan kembali dengan
membawa apa yang telah ia cari dan ia kumpulkan selama berada di perantauan.
Sama halnya dengan manusia yang hidup di dunia ini pada saatnya nanti akan
kembali menghadap Allah dengan membawa amal perbuatan telah kita kumpulkan di
dunia yang akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Ma’asyral Muslimin Wal Muslimat Rahimakumullah
Kematian itu merupakan peristiwa yang pasti dialami
oleh setiap makhluk yang bernyawa yang diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik itu manusia, hewan, jin, setan, bahkan
malaikat sekalipun akan mengalami yang namanya kematian. Sebagaimana Firman
Allah dalam surah al-Ankabut ayat 57 yang artinya: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian
hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.”
(Q.S. al-Ankabut : 57)
Firman Allah tersebut di atas telah memberikan kita
pemahaman bahwa kita manusia yang mempunyai jiwa atau ruh pasti akan merasakan
mati walaupun kita sendiri tidak mengetahui kapan dan di mana kematian itu akan
mendatangi kita. Oleh karena kematian itu datangnya secara tiba-tiba maka kita
harus mempersiapkan diri dengan cara senantiasa meningkatkan kualitas ibadah
kita kepada Allah agar pada saat kematian atau ajal itu datang maka kita telah
siap dan insya Allah kita akan mati dalam keadaan khusnul khatimah
Ma’asyral Muslimin Wal Muslimat Rahimakumullah
Ketika ajal kita telah tiba dan malaikat Izrail telah
siap untuk mencabut nyawa kita maka kita tidak akan bisa menunda kematian kita
walau hanya sedetik saja, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surah Yunus
ayat 49 yang artinya : Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka,
maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula)
mendahulukan(nya). (Q.S. Yunus : 49)
Firman Allah tersebut sangatlah jelas karena ketika
Allah menciptakan manusia Allah juga telah menenukan ajalnya pula, sebagaimana
firman-Nya yang artinya : Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian Dia menetapkan
ajal (kematianmu)
(Q.S. al-An’am : 2)
Ma’asyral Muslimin Wal Muslimat Rahimakumullah
Berbicara
tentang kematian tentunya tak lepas dari yang namanya sakaratul maut. Sakaratul
maut adalah saat-saat pencabutan nyawa seorang manusia oleh Malaikat Izrail.
Saat-saat sakaratul maut ini merupakan saat yang paling menyakitkan yang belum
pernah dirasakan manusia selama hidup di dunia. Rasa sakit ketika sakaratul
maut kira-kira seperti tiga ratus kali pukulan pedang, sebagaimana yang
disebutkan Imam Suyuthi dalam kitab Syarhus Shuudur, dari Hasan, sesungguhnya
Nabi Muhammad Saw. menyebutkan tentang sakitnya sakaratul maut, beliau bersabda: “Sakitnya
kira-kira tiga ratus kali pukulan pedang”. Bisa kita bayangkan bagaimana
sakitnya, jangankan tiga ratus kali sekali pukulan pedang saja sudah sangat
sakit apalagi tiga ratus kali, naudzubillahi minzalik.
Ma’asyral Muslimin Wal Muslimat Rahimakumullah
Pertanyaan besar bagi kita semua, sudah siapkah kita
bila saat ini malaikatul maut datang mencabut nyawa kita? Sudah siapkah kita
untuk terbaring sendiri, berbalut kain kafan di dalam lubang yang
berukuran satu kali satu setengah meter? Tentunya yang
dapat menjawab pertanyaan ini hanyalah diri kita sendiri.
Ma’asyral Muslimin Wal Muslimat Rahimakumullah
Sebagai kesimpulan ceramah
saya adalah kita sebagai manusia yang dicipkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala., dan suatu saat kita akan kembali kepada-Nya,
marilah kita senantiasa meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah sehingga
ketika kematian itu datang kita masih dalam keadaan Muslim, karena Allah
sendiri menginginkan kita manusia khususnya kita umat Islam ketika kita kembali
pada-Nya, kita masih memegang teguh agama kita yakni agama Islam, sebagaimana
firman-Nya dalam Al-Qur’an surah al-Imran ayat 102, yang artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa
kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan
beragama Islam. (Q.S. Ali Imran :
102)
Ma’asyral Muslimin Wal Muslimat Rahimakumullah
Demikianlah
ceramah yang dapat kami sampaikan pada kesempatan ini, semoga dapat
bermanfaat bagi kita semua, khusunya bagi kami dan seluruh hadirin yang hadir pada hari ini. Alhaqqu mirrabbi
walatakunanna minal mumtarin. Ada benarnya itu
datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bila ada kekurangan itu semata-mata datangnya dari diri kami sebagai makhluk Tuhan yang tak luput dari salah
dan khilaf. Kepada Allah saya mohon ampun dan kepada hadirin sekalian saya
mohon dimaafkan.
Wabillahi taufik wal hidayah, waridha wal inayyah, wassalamu alaikum
warrahmatullahi wabarakatuh.
Senin, 14 November 2016
Langganan:
Komentar (Atom)
